Saturday, April 4, 2009

Investigasi Jaipong Malam

Jaipong adalah sebuah seni tari dari daerah Jawa Barat (Sunda) yang namanya sudah tidak asing lagi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Jaipong bermula dari tari Ketuk Tilu, tarian tradisional khas Sunda. Setelah berkembang dengan berbagai variasi, baik dalam musik maupun gerak, tarian ini menjelma menjadi jaipongan. Kesenian ini pada kenyataannya telah melancong ke mancanegara dan sering menjadi duta bangsa. Gerak tari ini didominasi goyangan pinggul, pinggang, punggung, tangan, dan kepala. Irama musiknya lebih dikenal lewat hentakan gendang. Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah modern dan sudah mengalami modifikasi. Tari ini dimainkan dengan iringan musik yaitu degung. Kumpulan beragam alat musik seperti kendang, gong, saron, kacapi, dan lain-lian. Degung bisa diibararatkan orkestra dalam sebuah pagelaran musik klasik, atau pop.


Seiring pergantian jaman, kebudayaan seperti tari Jaipong ini sering terabaikan. Hanya segelintir orang yang tetap melestarikan budaya tari ini walaupun pementasan Jaipong terkadang sudah berubah kea rah yang negative yaitu erotis. Ciri khas dari tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik gendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok.

Ada sebuah pertunjukkan Jaipong di kota Jakarta tepatnya di Pisangan, Jatinegara yang cukup terkenal di kalangan rakyat menengah ke bawah. Letaknya ada di bawah kolong jembatan. Ada 2 tempat pertunjukkan di sana, yang pertama adalah Mekar Megara dan Lestari Jaipong. Namun yang lebih terkenal adalah Lestari Jaipong. Yang membedakan antara Mekar Megara dengan Lestari Jaipong asalah musik tradisional yang dipakai oleh Lestari Jaipong lebih kental daripada Mekar Megara. Pertunjukkan dimulai pada pukul 22.00 dan selesai kira-kira pukul 3.00 dini hari. Pengunjung lebih banyak datang pada pukul 12.00 sampai pukul 2.00, dan mereka biasanya sudah mulai mabuk-mabukan. Tempat pertunjukkannya sengat sederhana dan tidak luas, berupa panggung kecil, di sebelah warung kopi dan banyak pemuda-pemuda yang nongkrong disana. Dari stasiun kereta api yang letaknya tidak jauh dari situ, musik sudah terdengar. Tidak heran bila banyak pengunjung yang datang, karena pemain Jaipong ternyata cantik-cantik juga. Mereka memakai kostum yang warna warni dan berhiaskan bunga di kepalanya. Dengan melenggak-lenggokan tubuh, mereka menghibur para penonton. Sedangkan penyanyinya minta saweran (uang) dari para penonton.
Lestari Jaipong berdiri sejak 1959 dan sekarang sudah generasi ke-5, dikelola oleh Bapak Asep. Pertunjukkan Jipong tidak hanya menari tetapi juga sinden, yaitu menyanyi dengan bahasa Sunda. Tetapi terkadang lagu dangdut pun jadi, sambil diiringi alat musik keyboard. Hal itu dilakukan untuk mengikuti perkembangan jaman. Jumlah pemain di Lestari Jaipong ada 11 orang yang semuanya berasal dari Karawang. Umur mereka kira-kira 13 sampai 24 tahun. Pertunjukkan ini bisa menghasilkan pendapatan sampai 1 juta rupiah bila sedang ramai, dan kalau lagi sepi terkadang hanya Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Tidak hanya pentas di daerah Pisangan ini, tapi mereka dapat dipesan untuk acara hajatan yang harganya tidak murah juga yaitu Rp 5.000.000 per malam. Banyak gossip yang mengatakan penari Jaipong ini bisa dibawa pulang atau ‘ditiduri’. Dan ternyata memang benar, mereka bisa dibawa tidur tapi hanya untuk pelanggan tetap yang rajin datang.

Di setiap pertunjukan Jaipong, ada seorang senior yang biasanya dipanggil dengan sebutan ‘mama’ yang menjadi penyanyi di pertunjukan. Di Lestari Jaipong, namanya mama Nur. Ia berasal dari Karawang yang merupakan daerah yang memang terkenal dengan Jaipong-nya. Ia sudah 20 tahun menjadi sinden dan mengaku baru 2 minggu di Lestari Jaipong. Sebelumnya ia ada di Mekar Megara yang katanya masih bersaudara dengan Lestari Jaipong. Dalam setiap pekerjaan pasti ada suka dan dukanya, begitu juga dengan menjadi sinden Jaipong. Sukanya, ia dapat menyalurkan hobi menari dan menyanyinya dan menjadi suka menghibur. Sedangkan dukanya, ia tetap harus melakukan pekerjaannya walaupun ia sedang sakit.

Bila anda penasaran bagaimana menonton pertunjukan ini, anda bisa datang pada hari Senin sampai Minggu, kecuali Kamis malam, mulai pukul 22.00. Namun, jangan datang terlalu larut malam karena para pengunjung biasanya sudah mulai mabuk-mabukan dan siapkan saweran anda tentunya.


(26 November 2007)

0 comments: