Pernahkah kita berpikir daging apa yang kita makan saat kita memesan steak atau daging sapi di restoran? Bisa saja daging itu bukan benar-benar daging sapi yang sehat. Apalagi bila konsumen-nya seperti saya yang jika sudah makan ya langsung makan saja. Tidak terlalu bisa membedakan mana yang sehat dan tidak. Daging sapi memang salah satu daging hewan yang paling banyak kita konsumsi (bila tidak vegetarian), untuk masakan rendang, sate, sop, gulai, dan lain lain.
Belakangan ini daging sapi gelonggongan marak menjadi bahan berita. Daging sapi gelonggongan adalah daging dari sapi yang sebelum disembelih diisi air dengan tujuan beratnya naik. Dengan menggunakan selang, air dimasukkan ke dalam perut sapi melalui mulutnya. Setelah sapi itu lelah, barulah sapi disembelih.
Seperti yang diceritakan oleh salah seorang penjual daging sapi di Pasar Senen. Bapak ini mengaku tidak pernah menjual ataupun menemui daging sapi semacam ini di Pasar Senen. Beberapa pedagang yang lain juga ikut menimpali bahwa di Pasar Senen memang tidak kelihatan adanya daging gelonggongan tersebut. Ia mengatakan bahwa dalam beberapa waktu, petugas dari dinas peternakan akan melakukan pengawasan untuk menjaga daging sapi gelonggongan tidak dijual di Pasar Senen. Supplier (dari rumah potong hewan) juga sudah diawasi untuk menghindari penjualan daging sapi gelonggongan.
Namun, bapak ini mengetahui ciri-ciri daging sapi gelonggongan, yaitu warnanya pucat sekali seperti warna krem, dan sangat berair. Daging sapi akan mengeluarkan air dan menetes bila digantung. Penjual di Pasar Senen itu juga memberi sedikit tips, bila kita menemukan ada daging sapi yang dijual dengan harga lebih murah dari harga standard, kita patut curiga kalau-kalau itu adalah daging sapi gelonggongan. Selain itu, daging sapi gelonggongan juga akan menciut beratnya sampai sekitar 50% bila sudah direbus/ dimasak. Tentu itu sangat merugikan bagi konsumen. Bukan saja merugikan secara materi, namun daging seperti itu sangatlah tidak sehat. Secara medis daging gelonggongan tidak sehat untuk dikonsumsi, sebab mengandung bakteri pengawet saat sapi digelonggong (digelontor air) ketika akan disembelih. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan bahwa daging gelongongan itu haram. Dikhawatirkan pada saat menyembelih ternak tidak dilakukan dengan cara syariat Islam.
Selain itu, memasuki pertengahan bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran nanti, diperkirakan permintaan daging sapi akan mengalami peningkatan dan memicu penjualan daging sapi gelonggongan. Selain permintaan yang meningkat, peredaran daging gelonggongan ini bisanya dipicu oleh beberapa oknum pedagang liar yang sengaja memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan. Biasanya daging sapi gelonggongan ini didapat dari luar kota misalnya dari Semarang atau wilayah lainnya. Untungnya, sejauh ini (selama Ramadhan, menjelang Lebaran) belum ditemukan kasus daging sapi gelonggongan di wilayah Jakarta. Seperti yang dikatakan penjual daging di Pasar Senen tadi, daging yang masuk ke pasar terus diawasi oleh dinas peternakan.
Di dalam pasar, banyak penjual yang menjual daging di kiosnya. Untuk menghindari penipuan, tentu kita harus teliti dalam memilih dan membeli daging. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kesegaran daging tersebut. Dapat dilihat dari warnanya yang merah segar, tidak pucat, seratnya bagus dan tidak berair. Dari harganya juga dapat kita teliti, apakah harganya adalah harga standard (Rp 45.000,- per kilogram) atau di bawah harga standard. Bila harganya di bawah standard, kita patut curiga apakah daging itu baik atau tidak. Jangan tergoda dengan harga yang murah, karena kesehatan adalah yang paling penting. Lalu, kita dapat membeli di kios yang kelihatannya lebih ramai dibanding kios lain. Itu untuk menghindari penjual yang hanya ingin meraup keuntungan belaka saja.
Belakangan ini daging sapi gelonggongan marak menjadi bahan berita. Daging sapi gelonggongan adalah daging dari sapi yang sebelum disembelih diisi air dengan tujuan beratnya naik. Dengan menggunakan selang, air dimasukkan ke dalam perut sapi melalui mulutnya. Setelah sapi itu lelah, barulah sapi disembelih.

Seperti yang diceritakan oleh salah seorang penjual daging sapi di Pasar Senen. Bapak ini mengaku tidak pernah menjual ataupun menemui daging sapi semacam ini di Pasar Senen. Beberapa pedagang yang lain juga ikut menimpali bahwa di Pasar Senen memang tidak kelihatan adanya daging gelonggongan tersebut. Ia mengatakan bahwa dalam beberapa waktu, petugas dari dinas peternakan akan melakukan pengawasan untuk menjaga daging sapi gelonggongan tidak dijual di Pasar Senen. Supplier (dari rumah potong hewan) juga sudah diawasi untuk menghindari penjualan daging sapi gelonggongan.
Namun, bapak ini mengetahui ciri-ciri daging sapi gelonggongan, yaitu warnanya pucat sekali seperti warna krem, dan sangat berair. Daging sapi akan mengeluarkan air dan menetes bila digantung. Penjual di Pasar Senen itu juga memberi sedikit tips, bila kita menemukan ada daging sapi yang dijual dengan harga lebih murah dari harga standard, kita patut curiga kalau-kalau itu adalah daging sapi gelonggongan. Selain itu, daging sapi gelonggongan juga akan menciut beratnya sampai sekitar 50% bila sudah direbus/ dimasak. Tentu itu sangat merugikan bagi konsumen. Bukan saja merugikan secara materi, namun daging seperti itu sangatlah tidak sehat. Secara medis daging gelonggongan tidak sehat untuk dikonsumsi, sebab mengandung bakteri pengawet saat sapi digelonggong (digelontor air) ketika akan disembelih. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan bahwa daging gelongongan itu haram. Dikhawatirkan pada saat menyembelih ternak tidak dilakukan dengan cara syariat Islam.
Selain itu, memasuki pertengahan bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran nanti, diperkirakan permintaan daging sapi akan mengalami peningkatan dan memicu penjualan daging sapi gelonggongan. Selain permintaan yang meningkat, peredaran daging gelonggongan ini bisanya dipicu oleh beberapa oknum pedagang liar yang sengaja memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan. Biasanya daging sapi gelonggongan ini didapat dari luar kota misalnya dari Semarang atau wilayah lainnya. Untungnya, sejauh ini (selama Ramadhan, menjelang Lebaran) belum ditemukan kasus daging sapi gelonggongan di wilayah Jakarta. Seperti yang dikatakan penjual daging di Pasar Senen tadi, daging yang masuk ke pasar terus diawasi oleh dinas peternakan.
Di dalam pasar, banyak penjual yang menjual daging di kiosnya. Untuk menghindari penipuan, tentu kita harus teliti dalam memilih dan membeli daging. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kesegaran daging tersebut. Dapat dilihat dari warnanya yang merah segar, tidak pucat, seratnya bagus dan tidak berair. Dari harganya juga dapat kita teliti, apakah harganya adalah harga standard (Rp 45.000,- per kilogram) atau di bawah harga standard. Bila harganya di bawah standard, kita patut curiga apakah daging itu baik atau tidak. Jangan tergoda dengan harga yang murah, karena kesehatan adalah yang paling penting. Lalu, kita dapat membeli di kios yang kelihatannya lebih ramai dibanding kios lain. Itu untuk menghindari penjual yang hanya ingin meraup keuntungan belaka saja.
(1 October 2007)

0 comments:
Post a Comment